Sambut Student Visit Kiel University, FH USK Gelar Seminar Internasional Bahas Otonomi Khusus, Hukum Islam, dan Warisan Kesultanan Aceh dalam Mendukung Sustainable Development Goals 4, 16, dan 17
Banda Aceh – Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH USK) melalui International Class Program (ICP) kembali memperkuat jejaring akademis internasional dengan menyelenggarakan kegiatan seminar dalam rangka menyambut kunjungan mahasiswa (student visit) dari Kiel University, Jerman. Seminar bertajuk “Exploring Aceh’s Special Autonomy, Islamic Law, and Sultanate Heritage” ini berlangsung di Aula Fakultas Hukum USK dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, serta civitas akademika dari kedua universitas. Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh pimpinan fakultas, yaitu jajaran Wakil Dekan FH USK: M. Ya’kub Aiyub Kadir, Ph.D., Lia Sautunida Ph.D., M.Hum., dan Dr. M. Insan Ansari, SH.,M.H.
Inisiatif akademis ini diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen FH USK dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan forum pembelajaran internasional yang inklusif, SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui penguatan kajian hukum dan perdamaian, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas negara dengan Kiel University
Kegiatan ini menghadirkan dua keynote speaker terkemuka, yaitu Dekan Fakultas Hukum USK, Prof. Dr. Zahratul Idami, S.H., M.Hum., dan akademisi dari Kiel University, Dr. Cosima. Kedua narasumber memberikan perspektif mendalam yang menggabungkan kajian hukum, sejarah, serta geografi budaya.
Sebagai narasumber pertama, Prof. Zahratul Idami membawakan materi bertajuk “A Journey from Resistance to Peace in Modern Aceh: Special Autonomy, Sharia Law, Conflict, and Democratization”. Dalam pemaparannya, beliau mengulas perjalanan sejarah dan dinamika hukum di Aceh, mulai dari era konflik hingga lahirnya perdamaian melalui implementasi Otonomi Khusus dan penerapan Hukum Syariat, serta bagaimana dinamika tersebut membentuk proses demokratisasi modern di Aceh.
Sementara itu, Dr. Cosima selaku narasumber kedua memaparkan materi mengenai “Cultural Geography and Board Games”. Beliau memberikan sudut pandang interdisipliner mengenai bagaimana geografi budaya dapat dipelajari dan dipahami melalui pendekatan media pembelajaran interaktif seperti permainan papan (board games), yang membuka ruang diskusi akademik baru bagi para peserta.
Penyelenggaraan seminar ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sejarah, hukum, dan budaya lokal Aceh ke kancah internasional, sekaligus memfasilitasi pertukaran pemikiran lintas budaya dan disiplin ilmu. Sesi diskusi berjalan interaktif dan dinamis, di mana para mahasiswa dari Kiel University maupun FH USK secara aktif mengajukan pertanyaan seputar pengalaman Aceh dalam menjaga perdamaian dan kebudayaannya.
Selain memperluas wawasan akademik civitas akademika, kegiatan student visit ini diharapkan dapat mempererat hubungan kerja sama internasional serta membuka peluang kolaborasi penelitian dan pendidikan berkelanjutan antara FH USK dan Kiel University demi mendukung pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan global.

