11 Sep 2026

Kuliah Tamu Fakultas Hukum Usk Dengan Pakar AI Dari Jerman Pada Kelas Internasional

Banda Aceh, 8 September 2026.,  Kelas Sosiologi International Class Program (ICP) yang diampu oleh Saifuddin, S.H., M.A., menyelenggarakan kuliah tamu bersama Hendrik A.L.R. pada Selasa, 8 September 2026, bertempat di Ruang 01.13. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.15 hingga 15.40 tersebut mengangkat pembahasan mengenai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), cara kerja AI, serta berbagai tantangan dan kemungkinan perilaku AI yang perlu dipahami secara kritis.

Kuliah tamu berlangsung interaktif dengan antusiasme mahasiswa yang tinggi. Setelah sesi utama berakhir, diskusi dan tanya jawab bahkan dilanjutkan selama kurang lebih 45 menit di Taman Justice Corner Fakultas Hukum USK. Antusiasme tersebut menunjukkan ketertarikan mahasiswa terhadap isu kecerdasan buatan yang semakin memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial, pendidikan, pekerjaan, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.

Dalam pemaparannya, Hendrik menjelaskan bahwa kecerdasan buatan merupakan upaya untuk meniru atau mensimulasikan sejumlah fitur kecerdasan manusia melalui sistem komputer. Namun demikian, upaya untuk mereplikasi kecerdasan manusia secara utuh masih menghadapi tantangan karena kemampuan dan mekanisme kecerdasan manusia sendiri belum sepenuhnya diketahui dan dapat dideskripsikan.

Salah satu pendekatan penting dalam perkembangan AI adalah pembelajaran mesin (machine learning) melalui jaringan saraf buatan (artificial neural networks). Perkembangan tersebut kemudian berlanjut pada teknologi deep learning, yang memungkinkan sistem memproses informasi secara lebih mendalam melalui proses pelatihan dengan data yang lebih beragam dan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat belajar dari berbagai bentuk informasi, termasuk gambar, bahasa, dan pola data lainnya.

Hendrik juga mengajak mahasiswa memahami salah satu persoalan penting dalam penggunaan AI, yaitu AI hallucination. AI dapat menghasilkan jawaban yang keliru tetapi disampaikan dengan bahasa yang terdengar sangat meyakinkan. Fenomena tersebut terjadi karena AI bekerja berdasarkan pola-pola yang dipelajarinya dari data dan bahasa manusia. Oleh karena itu, jawaban yang terdengar meyakinkan tidak selalu menunjukkan bahwa AI benar-benar memahami atau menyampaikan informasi yang benar.

Pembahasan kemudian berkembang pada sejumlah pendekatan dan perkembangan mutakhir dalam AI, antara lain world models dan reinforcement learning. World models memungkinkan sistem AI membangun pemahaman mengenai lingkungan atau dunia yang menjadi konteks pembelajarannya. Sementara itu, reinforcement learning memanfaatkan mekanisme umpan balik untuk membantu sistem menentukan respons yang lebih tepat serta mengurangi kemungkinan menghasilkan respons yang tidak diinginkan.

Salah satu bagian yang menarik perhatian mahasiswa adalah pembahasan mengenai kemungkinan AI menghasilkan perilaku yang tidak terduga atau sulit diprediksi manusia. Hendrik menjelaskan fenomena acting out of distribution, yaitu ketika sistem AI bertindak dengan cara yang berbeda dari kondisi atau pola yang digunakan dalam proses pelatihannya.

Fenomena tersebut dapat muncul, misalnya, ketika dua sistem AI mengembangkan bentuk komunikasi yang unik dan berbeda dari bahasa yang sebelumnya diberikan kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa sistem AI dapat menghasilkan pola atau strategi yang tidak selalu dapat diprediksi hanya berdasarkan instruksi dan data yang digunakan dalam proses pembelajarannya.

Pembahasan juga dikaitkan dengan konsep artificial neurons atau neuron buatan, yang memungkinkan sistem AI memproses informasi dan menemukan pola tertentu dari data. Dalam konteks perilaku AI yang tidak terduga, terdapat kemungkinan sistem menghasilkan pola yang tidak diinginkan akibat proses pembelajaran maupun halusinasi AI, kemudian mempertahankan pola tersebut. Kemungkinan lainnya adalah sistem menemukan cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang diberikan kepadanya.

Dari keseluruhan pembahasan, mahasiswa diajak untuk melihat AI bukan hanya sebagai teknologi yang mampu menghasilkan jawaban atau menyelesaikan tugas, tetapi sebagai sistem yang memiliki kompleksitas dalam proses belajar dan menghasilkan respons. Karena itu, pemahaman kritis terhadap kemampuan, keterbatasan, serta kemungkinan perilaku AI menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Antusiasme mahasiswa terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang muncul selama kegiatan. Kualitas pertanyaan yang diajukan juga mendapat apresiasi dari Hendrik. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk berbagi pengetahuan dan berdiskusi bersama mahasiswa Sosiologi IC.

Hendrik mengaku terkesan dengan daya tangkap mahasiswa terhadap materi yang disampaikan. Ia juga mengapresiasi kualitas pertanyaan yang diajukan mahasiswa serta kemampuan mereka menggunakan bahasa Inggris dalam proses diskusi. Apresiasi tersebut menjadi salah satu catatan positif dari pelaksanaan kuliah tamu yang berlangsung dalam suasana akademik yang terbuka dan interaktif.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan kecerdasan buatan sekaligus mendorong mereka untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, mempertanyakan, dan menyikapi perkembangan AI secara kritis. Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan tersebut menjadi semakin penting untuk menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang terus berkembang.