07 Mar 2026

Apel Senin Pagi, 26 Januari 2026: Keseimbangan Ilmu Agama dan Teknologi serta Pentingnya Amal Sosial

Darussalam, Banda Aceh (26/01/2026) – Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (FH USK) menggelar apel rutin Senin pagi di halaman depan fakultas. Kegiatan ini diikuti oleh segenap pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan satuan pengamanan FH USK.

Dalam amanatnya, Dekan FH USK, Prof. Dr. Ilyas, S.H., M.Hum., menyampaikan bahwa dalam rangka menyambut awal perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, FH USK akan mengadakan Pertemuan Persiapan Awal Semester pada Rabu, 28 Januari 2026, di Aula FH USK. Kegiatan tersebut menjadi agenda penting untuk mengevaluasi capaian sebelumnya serta membahas strategi pelaksanaan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas. Pertemuan juga diharapkan mempererat silaturahmi antarwarga FH USK, memperkuat etika, spiritualitas, dan tanggung jawab akademik dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi.

Lebih lanjut, Prof. Ilyas menyampaikan refleksi pribadi terkait kemungkinan, masa tugasnya sebagai Dekan yang akan berakhir pada Maret 2026. Dalam arahannya, beliau menegaskan pentingnya persiapan kerja akademik yang terencana dengan kesiapan mental dan spiritual yang matang, sebagai bagian dari pengabdian intelektual.

Mengutip pandangan B.J. Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Ilyas menyoroti hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dengan Iman dan Taqwa (Imtaq) sebagai pilar kehidupan yang seimbang. Menurut beliau, kecerdasan tanpa iman dapat berbahaya, sementara iman tanpa ilmu tidak cukup untuk membangun peradaban. Bagi Habibie, dunia adalah tempat berikhtiar dan berinovasi, sementara iman menjadi kompas batin yang mengarahkan setiap usaha agar membawa kemaslahatan.

Dalam arahannya, Dekan juga menyoroti nilai-nilai kehidupan dari lima pandangan mendasar B.J. Habibie, yaitu:

  1. Keseimbangan Iptek dan Imtaq sebagai dasar kebijaksanaan manusia.
  2. Dunia sebagai bekal menuju akhirat, tempat manusia beramal dan berikhtiar.
  3. Batin yang terisi iman menghadirkan semangat dan produktivitas hidup.
  4. Cinta dan ketulusan sebagai energi batiniah yang menggerakkan amal.
  5. Bekerja sebagai ibadah, bahwa produktivitas merupakan bentuk pengabdian spiritual.

“Ilmu agama sesungguhnya menjadi sumber kebahagiaan batin. Kemajuan teknologi mesti disertai nilai-nilai religius agar tidak menimbulkan kehampaan rohani,” tegas Prof. Ilyas.

Dalam perspektif teologis, beliau juga mengulas dua aliran besar dalam pemikiran Islam, yaitu Jabariyah dan Qadariyah, sebagai cerminan keseimbangan antara takdir dan ikhtiar. Manusia, katanya, memiliki kebebasan untuk memilih, namun tetap bertanggung jawab atas setiap amalnya.

Sebagai penutup, Prof. Ilyas mengutip nasihat Rasulullah SAW kepada Mu‘adz bin Jabal, yang menekankan empat amalan utama:

  1. Bertakwa kepada Allah di mana pun berada.
  2. Memaafkan kesalahan dan menahan amarah.
  3. Bersedekah dengan tulus dan ikhlas.
  4. Bersahabat dengan orang saleh.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan, mempererat hubungan sosial, dan menjadikan setiap amal sebagai jalan kebahagiaan bersama. “Amalan terbaik adalah yang membahagiakan sesama,” tutup Prof. Ilyas, seraya mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus melakukan refleksi diri dan meningkatkan amal kebaikan. (Penulis: Sri Walny Rahayu, 2026).